“Do not cry like a woman for that
which you could not defend as a man” kalimat ini yang selalu ku ingat
tentang Granada, kerajaan Islam terakhir
di benua biru, Eropa. Kalimat ini juga yang selalu membuatku ingin mengunjungi
Granada.
Pengunjung Granada selalu memberikan
rating tertinggi setelah mengunjungi kota spektakuler ini. Granada adalah salah
satu kota terindah di dunia. Bahkan Granada adalah sebuah kota monumental yang
tak tertandingi. Kota dan taman yang indah, orang – orangnya yang ramah dan
kota yang kaya akan sejarah, membuat aku langsung jatuh cinta pada kota ini saat
menginjakkan kaki pertama kali. Dulu waktu masih membaca sejarahnya dari buku
dalam hati ku terbersit keinginan untuk mengunjungi tempat ini, untuk mengagumi
cerita dari buku - buku tentang Granada, dan ternyata aku kagum dan mencintai
kota ini. Hari terakhir di Granada ku buka jendela kamar hotel di lantai tiga,
aku teriak “I LOVE GRANADA, PART OF MY HEART BELONG TO THIS PLACE” tidak peduli
bahwa di bawah jendela kamar hotel ku adalah jalan kecil dan di sampingnya garden park publik dengan banyak kursi
berjejer - jejer. Orang - orang mendongak keatas menatap ku, lalu ada yang
bertepuk tangan, kemudian di ikuti oleh orang -
orang yang duduk di taman, maka seketika aku seperti habis melakukan
pementasan teater, hahaha. lalu ku lanjutkan teriakan ku “AND I LOVE YOU TOO
GUYS” sambil melambaikan tangan. Berbalik badan dan mendapati suami ku
terpingkal pingkal. Barangkali ada yang berpikir aku kurang waras dan memang
demikian adanya.
Kombinasi dari letak geografis yang
berada di atas atau biasa di sebut “rises majestic” antara laut mediterania dan
pegunungan Sierra Nevada masih di tambah lagi dengan pemandangan kota yang
indah. Semua kombinasi ini menjadikan Granada sebagai kota yang unik. Bill
Clinton pernah mengunjungi tempat ini saat sunset dan berkata “ini adalah
sunset terindah di dunia” wuiiii…. Sayangnya aku tidak berkesempatan melihat
sunsetnya.
Mengapa aku begitu ingin sekali
mengunjungi Granada? karena disinilah puncak kejayaan Islam di Eropa dan disini
pulalah berakhirnya kejayaan umat Islam di benua biru tersebut. Sejarah
singkatnya yang masih ku ingat dari buku - buku, bahwa pada tahun 711 orang -
orang Islam mulai memasuki wilayah Eropa, memasuki semenanjung Iberia
menyebrangi lautan yang memisahkan antara afrika dan Eropa, antara Morroco dan
Spanyol. Sekitar 290-an tahun kemudian, sekitar tahun 900 Masehi, Islam
mencapai puncak kejayaan di tanah Andalusia ini. Dibawah dinasti Umayah (kalau
nggak salah) kerajaan Islam ini menjadi kerajaan dengan ekonomi yang bisa di
bilang cukup stabil dan layak di perhitungkan di benua Eropa pada saat itu.
Akan tetapi masa kejayaan itu tidak berlangsung lama, sesama muslim mulai tidak
rukun saling tidak percaya, saling ingin berkuasa hingga akhirnya tahun 1000
Masehi, kerajaan ini terpecah - pecah menjadi kerajaan - kerajaan kecil dimana
masing - masing kerajaan memiliki hak otonomi atas wilayah mereka. Sehingga
rentan di serang oleh kerajaan non muslim. Hingga pada akhirnya hanya tinggal
satu kerajaan yang dapat bertahan di sebelah selatan Andalusia, ini kerajaan terakhir
yang tidak mudah di lumpuhkan karena letak geografisnya yang sulit di jangkau
saat itu, itulah kerajaan Granada.
Di ujung cerita sejarah ini, pada
tahun 1482 (aku selalu ingat digit dua terakhir karena sama dengan tahun
kelahiran ku) Raja Ferdinand dari Spanyol melihat peluang untuk mengalahkan
Granada, keluarga kerajaan Granada saat itu dalam keadaan kisruh, sikut
sikutan, terpecah belah karena perbedaan kepentingan politik dan kepentingan
pribadi. Muhammad yang merupakan anak dari raja Granada memerangi ayahnya
sendiri. Kesempatan ini di gunakan oleh raja Ferdinand dari Spanyol untuk
mendukung Muhammad. Setelah sultan Muhammad berhasil mengalahkan sang ayah dan
menduduki kerajaan, beliau mendapat surat dari raja Ferdinand untuk menyerahkan
kerajaannya, Alhambra. Yang memilukan saat dia menyadari bahwa kerajaannya
telah di kepung oleh pasukan Kristen dari raja Ferdinand dan ratu Elizabeth, ia
menangis pada ibunya, dan ibunya berkata
“Do not cry like a woman for that which you could not defend as a man” Sultan
Muhammad akhirnya menyerahkan kerajaan terakhir ini dan beliau mengungsi ke
Morroco dan hidup disana sebagai rakyat biasa hingga ajal menjemput.
Tidak seperti kerajaan - kerajaan
lain yang di musnahkan oleh kelompok
Kristen setelah memenangkan peperangan, raja Ferdinand dan ratu Elizabeth
meminta Alhambra untuk tidak di musnahkan dan di jaga keberadaanya. Terlepas
dari kesedihan atas musnahnya kerajaan Islam di Eropa, dan aku tidak tahu pasti
bagaimana jahat atau baiknya kedua raja dan ratu Kristen ini, tapi aku sangat
berterimakasih kepada mereka berdua, karena dengan tidak di hancurkannya
kerajaan Alhambra, aku masih bisa mengunjungi tempat yang sangat bersejarah
ini. Tempat yang di bangun lebih dari 1000 tahun yang lalu, ada cerita kejayaan
disana, ada cerita kekalahan, kebahagian, cinta, keluarga, pengkhiatan,
kesedihan dan kehancuran. Alhambra adalah saksi dari semua episode itu. Ada
pelajaran berharga yang dapat ku ambil dari kisah Granada ini, bahwa sejaya
atau sehebat apa pun kita, kita akan mudah musnah jika diantara kita tidak
saling menyayangi, tidak saling menghargai, saling membenci, tidak bersatu.
Alhambra adalah bukti bahwa kejayaan itu musnah oleh perilaku kita sendiri.
Dari kejauhan, Alhambra tampak
seperti bangunan tua, jika kita tidak mengerti sejarahnya barangkali melirik
pun enggan, akan tetapi jika kita tahu sejarahnya, bahwa bangunan ini sudah ada
sejak seribu tahun yang lalu maka ketakjuban itu muncul. Ya ampun.. seribu
tahun yang lalu saja sudah begini, lalu ketika masuk kedalam Alhambra, aku
percaya tidak satupun pengunjung yang tidak mengagumi tempat ini. Alhambra
kerajaan Islam megah di kota Granada, kenapa di sebut Alhambra, katanya karena
hambra berarti merah, istana ini di bangun dengan batu - batu merah, itu
sebabnya di sebut Alhambra. Tempat ini di kunjungi lebih dari Sembilan ribu
wisatawan setiap harinya. Ada dua sesi kunjungan, siang atau malam. Harga
tiketnya 14 Euro (general visit, bisa mengunjungi semua tempat mulai dari
taman, bangunan militer, kerajaan dan hunian musim panas) Bisa di beli online
di website Alhambra atau bisa beli di tempat. Saat aku mengunjungi tempat ini,
aku mencoba untuk book tiket online, tapi sudah penuh padahal masih jarak satu
mingguan. Alternatifnya aku dan suami berangkat pagi - pagi, aku sampai tidak
cuci muka, tidak sisir rambut, Cuma gosok gigi. Mata sipit karena kurang tidur,
karena baru tidur jam 3 pagi akibat kelamaan ngobrol sama teman lama yang
tinggal di kota ini. Dari hotel jam 6 pagi untuk antri ambil tiket. Ternyata
sampai di lokasi antrian sudah panjang.
Memasuki kerajaan Alhambra membuat aku ternganga -
nganga, kagum, bagaimana orang - orang pada jaman itu dengan kesederhanaan alat
membuat bangunan semegah ini, kadang mata ku sampai berkaca kaca karena takjub.
Setiap ornamen bangunan di buat dengan sempurna, batu - batu marmer menjulang
tinggi dipahat bertuliskan arab, sebagian bertulisakan ayat - ayat suci
al-quran, bagaimana orang - orang pada jaman dulu punya selera seni tingkat
tinggi begini ?. Orang - orang jaman sekarang pun akan sulit menandingi
keindahan bangunan ini.
Satu tiket berlaku untuk 6 jam, mulai dari jam 8 pagi
sampai jam 2 siang. Awalnya aku berpikir 2 jam akan selesai, ternyata selama 6
jam aku sampai lupa makan lupa minum, kalau dihitung kilo meter, entah sudah
berapa kilo meter aku berjalan dan aku masih ingin berlama - lama disana,
mengagumi setiap detailnya, imajinasi ku berlari ke masa lalu, membayangkan di
tempat aku berdiri ini, seribu tahun yang lalu siapa yg berdiri disini, apa
yang dia lakukan, dan imajinasi - imajinasi liar lainnya. Ketika jam
menunjukkan pukul 2 siang, aku masih belum mau beranjak, masih ingin berlama -
lama di tempat ini, sampai kami putuskan untuk kembali lagi pada malam harinya,
tapi pada akhirnya, sesampai di hotel aku menyadari kaki kiri ku bengkak,
barangkali karena kelamaan berjalan dan aku harus mengurungkan niat kembali ke
Alhambra. Tapi aku berjanji untuk diriku sendiri, aku akan menghadiahi diri
sendiri dengan mengunjungi Alhambra di malam hari lain waktu. Ada satu hal di
Alhambra yang tiba – tiba membuat ku rindu pada Eyang Kakung dan Eyang putri,
pada bekas perumahan militer, ada bagian kecil di pojok rumah yang kemudian ku
ketahui adalah kamar mandi & tempat buang air besar. di atas tanah tersebut
ada dua bata panjang besar sejajar dengan sedikit jarak kira kira satu jengkal
tapi sudah rata dengan tanah. Tahukah kamu apa itu? Tentu saja aku tahu, ini
adalah WC bolong, bata itu di gunakan untuk injakan kaki, sementara jarak
antara dua bata itu adalah lubang untuk tempat e’ek kita, kok tahu ? soalnya WC
kakek nenek ku jaman dulu begitu.
Di samping kerajaan Alhambra. Ada
juga tempat monumental yang disebut dengan Madrasah, suami ku kaget “lho kamu
kok tau kalau madrasah itu tempatnya sekolah orang – orang muslim?” “yaelah
cin… ya tau lah.. kan banyak Madrasah di Indonesia, Cuma umurnya gak setua
Madrasah ini, kalau ini kan satu satunya di Granada, kalau di Indonesia
banyak”. Letak madrsah ini terletak di pusat kota, agak jauh dari Alhambra,
tempatnya orang - orang Islam menimba ilmu pada saat itu. Di dalam madrasah ini
ada masjidnya juga jadi kita bisa tau dimana arah kiblat. Tempat ini pun di
ambil alih oleh pasukan Kristen, akan tetapi bangunannya tidak di hancurkan,
dulu tempat ini sempat dijadikan kantor pengadilan oleh - orang Kristen,
kemudian tidak di gunakan lagi dan tetap di pelihara sampai sekarang, sekarang
Madrasah ini menjadi bagian dari Universitas Granada, yang merupakan salah satu
universitas tertua di Dunia berumur lebih dari 500 tahun. Di altar madrasah ini,
lantainya di ubah menggunakan kaca, dari kaca bening ini aku bisa melihat ada
bangunan rumah dibawah madrasah ini, ternyata rumah ini ada sebelum jaman Islam
masuk ke Eropa, jadi barangkali ini adalah rumah orang Kristen (entah rumah
siapa, aku nggak tahu sejarahnya kalau yang ini). Orang - orang jaman dulu jika
ingin membuat bangunan baru caranya dengan menimbun bangunan lama, tidak
seperti orang masa kini yang merobohkan bangunan lama untuk membuat bangunan
baru. Itulah sebabnya para arkeolog suka menggali untuk menemukan bukti
sejarah, karena pada jaman tersebut orang - orang suka menimbun, jadi kalau mau
tahu sejarahnya, gali timbunannya dan disana harta sejarah masa lalu berada.
Jadi jangan mengatakan para arkeolog itu kurang kerjaan kalau sedang menggali –
gali tanah.
Disamping bangunan - bangunan Islam
tua, terdapat juga katredal yang di bangun tidak lama setelah kekalahan umat
Islam, umurnya juga sekitar 800 tahun, tetap megah, tetap terjaga.
Semua bangunan - bangunan di kota
Granada rata - rata adalah bangunan tua, termasuk rumah - rumah penduduk dan
kantor pemerintahan yang sudah berusia ratusan tahun tetap di gunakan, jarang
ada bangunan baru di kota ini. Orang - orang lokal sangat ramah, jika kita suka
Tapas (bar atau café kas Spanyol, order satu minum, dapat 1 gratis makanan
porsi kecil lho ya) kota ini lah surganya Tapas. Pengalaman ku dengan suami,
order 2 gelas minum dapat 1 piring kecil salad kentang dan 1 piring isi 8 gamba
plancha (udang panggang). Order minum kedua dapat ikan goreng 4 ekor plus
kentang goreng. Order minum ke tiga dapat roti topping keju. Begitu seterusnya
dengan jenis makanan yang berbeda - beda. Hampir di semua bar dan café mereka
akan memberikan makanan gratis dalam porsi kecil, dan aku sampai bertanya dalam
hati “dimana mereka dapat untungnya?”
Aku sungguh gila pada kota kota kecil
dan desa desa, terutama kota dan desa dengan memiliki nilai sejarah yang
tinggi, tenang, sedikit berbau tradisional, itulah sebabnya ketika di tanya
suami kenapa aku begitu mania pada kota kecil dan desa, jawab ku : in big city,
maybe you get high level of life, because everyone loves to be on the top of
the level, but they forget, we only get the quality of life in the small city
or in village. When you get the quality, you don’t care about your level, And
this is what I want in my life, Quality. I don’t care about the level. That’s
my opinion, I don’t know if this is also work for other people but it’s work on
me. Big city destroy the nature as always and I hate that.
Begitulah.. Granada, kota kecil yang
sangat ku kagumi, kelak jika suatu hari aku melihat tayangan di televisi
tentang Granada (di Indonesia, biasanya kota ini muncul di televisia saat
Ramadhan, yang berbau – bau acara sejarah Islam), I know this place, I have been there.
Terimakasih untuk suami tercinta yang
bersedia nyetir 2 jam demi menyenangkan istrinya, untuk menjadikan traveling
ini menjadi lebih asik. Untuk yang ingin berkunjung ke Granada & butuh
info, just PM me, dengan senang hati akan membantu.
(mohon maaf jika barangkali ulasan sejarahnya ada yang
kurang pas, ini hanya seingat ku saja, semoga aku belum amnesia atau gagal
paham membaca buku jaman SMA)
Warmly,
Dewi Pobo

Alhambra Dengan Latar Pegunungan Sierra Nevada

Palace of the Carles V

De patio de los arrayanes

Viev of the city

Glazed tiles, rich of art

Full Arabic & high sense of art

Small portion free, big portion please buy

Military house
Tidak ada komentar:
Posting Komentar