Selasa, 22 November 2016

Discover Granada

Do not cry like a woman for that which you could not defend as a man” kalimat ini yang selalu ku ingat tentang  Granada, kerajaan Islam terakhir di benua biru, Eropa. Kalimat ini juga yang selalu membuatku ingin mengunjungi Granada.

Pengunjung Granada selalu memberikan rating tertinggi setelah mengunjungi kota spektakuler ini. Granada adalah salah satu kota terindah di dunia. Bahkan Granada adalah sebuah kota monumental yang tak tertandingi. Kota dan taman yang indah, orang – orangnya yang ramah dan kota yang kaya akan sejarah, membuat aku langsung jatuh cinta pada kota ini saat menginjakkan kaki pertama kali. Dulu waktu masih membaca sejarahnya dari buku dalam hati ku terbersit keinginan untuk mengunjungi tempat ini, untuk mengagumi cerita dari buku - buku tentang Granada, dan ternyata aku kagum dan mencintai kota ini. Hari terakhir di Granada ku buka jendela kamar hotel di lantai tiga, aku teriak “I LOVE GRANADA, PART OF MY HEART BELONG TO THIS PLACE” tidak peduli bahwa di bawah jendela kamar hotel ku adalah jalan kecil dan di sampingnya garden park publik dengan banyak kursi berjejer - jejer. Orang - orang mendongak keatas menatap ku, lalu ada yang bertepuk tangan, kemudian di ikuti oleh orang -  orang yang duduk di taman, maka seketika aku seperti habis melakukan pementasan teater, hahaha. lalu ku lanjutkan teriakan ku “AND I LOVE YOU TOO GUYS” sambil melambaikan tangan. Berbalik badan dan mendapati suami ku terpingkal pingkal. Barangkali ada yang berpikir aku kurang waras dan memang demikian adanya.
Kombinasi dari letak geografis yang berada di atas atau biasa di sebut “rises majestic” antara laut mediterania dan pegunungan Sierra Nevada masih di tambah lagi dengan pemandangan kota yang indah. Semua kombinasi ini menjadikan Granada sebagai kota yang unik. Bill Clinton pernah mengunjungi tempat ini saat sunset dan berkata “ini adalah sunset terindah di dunia” wuiiii…. Sayangnya aku tidak berkesempatan melihat sunsetnya.
Mengapa aku begitu ingin sekali mengunjungi Granada? karena disinilah puncak kejayaan Islam di Eropa dan disini pulalah berakhirnya kejayaan umat Islam di benua biru tersebut. Sejarah singkatnya yang masih ku ingat dari buku - buku, bahwa pada tahun 711 orang - orang Islam mulai memasuki wilayah Eropa, memasuki semenanjung Iberia menyebrangi lautan yang memisahkan antara afrika dan Eropa, antara Morroco dan Spanyol. Sekitar 290-an tahun kemudian, sekitar tahun 900 Masehi, Islam mencapai puncak kejayaan di tanah Andalusia ini. Dibawah dinasti Umayah (kalau nggak salah) kerajaan Islam ini menjadi kerajaan dengan ekonomi yang bisa di bilang cukup stabil dan layak di perhitungkan di benua Eropa pada saat itu. Akan tetapi masa kejayaan itu tidak berlangsung lama, sesama muslim mulai tidak rukun saling tidak percaya, saling ingin berkuasa hingga akhirnya tahun 1000 Masehi, kerajaan ini terpecah - pecah menjadi kerajaan - kerajaan kecil dimana masing - masing kerajaan memiliki hak otonomi atas wilayah mereka. Sehingga rentan di serang oleh kerajaan non muslim. Hingga pada akhirnya hanya tinggal satu kerajaan yang dapat bertahan di sebelah selatan Andalusia, ini kerajaan terakhir yang tidak mudah di lumpuhkan karena letak geografisnya yang sulit di jangkau saat itu, itulah kerajaan Granada.
Di ujung cerita sejarah ini, pada tahun 1482 (aku selalu ingat digit dua terakhir karena sama dengan tahun kelahiran ku) Raja Ferdinand dari Spanyol melihat peluang untuk mengalahkan Granada, keluarga kerajaan Granada saat itu dalam keadaan kisruh, sikut sikutan, terpecah belah karena perbedaan kepentingan politik dan kepentingan pribadi. Muhammad yang merupakan anak dari raja Granada memerangi ayahnya sendiri. Kesempatan ini di gunakan oleh raja Ferdinand dari Spanyol untuk mendukung Muhammad. Setelah sultan Muhammad berhasil mengalahkan sang ayah dan menduduki kerajaan, beliau mendapat surat dari raja Ferdinand untuk menyerahkan kerajaannya, Alhambra. Yang memilukan saat dia menyadari bahwa kerajaannya telah di kepung oleh pasukan Kristen dari raja Ferdinand dan ratu Elizabeth, ia menangis pada ibunya, dan ibunya berkata “Do not cry like a woman for that which you could not defend as a man” Sultan Muhammad akhirnya menyerahkan kerajaan terakhir ini dan beliau mengungsi ke Morroco dan hidup disana sebagai rakyat biasa hingga ajal menjemput.
Tidak seperti kerajaan - kerajaan lain yang di musnahkan oleh  kelompok Kristen setelah memenangkan peperangan, raja Ferdinand dan ratu Elizabeth meminta Alhambra untuk tidak di musnahkan dan di jaga keberadaanya. Terlepas dari kesedihan atas musnahnya kerajaan Islam di Eropa, dan aku tidak tahu pasti bagaimana jahat atau baiknya kedua raja dan ratu Kristen ini, tapi aku sangat berterimakasih kepada mereka berdua, karena dengan tidak di hancurkannya kerajaan Alhambra, aku masih bisa mengunjungi tempat yang sangat bersejarah ini. Tempat yang di bangun lebih dari 1000 tahun yang lalu, ada cerita kejayaan disana, ada cerita kekalahan, kebahagian, cinta, keluarga, pengkhiatan, kesedihan dan kehancuran. Alhambra adalah saksi dari semua episode itu. Ada pelajaran berharga yang dapat ku ambil dari kisah Granada ini, bahwa sejaya atau sehebat apa pun kita, kita akan mudah musnah jika diantara kita tidak saling menyayangi, tidak saling menghargai, saling membenci, tidak bersatu. Alhambra adalah bukti bahwa kejayaan itu musnah oleh perilaku kita sendiri.
Dari kejauhan, Alhambra tampak seperti bangunan tua, jika kita tidak mengerti sejarahnya barangkali melirik pun enggan, akan tetapi jika kita tahu sejarahnya, bahwa bangunan ini sudah ada sejak seribu tahun yang lalu maka ketakjuban itu muncul. Ya ampun.. seribu tahun yang lalu saja sudah begini, lalu ketika masuk kedalam Alhambra, aku percaya tidak satupun pengunjung yang tidak mengagumi tempat ini. Alhambra kerajaan Islam megah di kota Granada, kenapa di sebut Alhambra, katanya karena hambra berarti merah, istana ini di bangun dengan batu - batu merah, itu sebabnya di sebut Alhambra. Tempat ini di kunjungi lebih dari Sembilan ribu wisatawan setiap harinya. Ada dua sesi kunjungan, siang atau malam. Harga tiketnya 14 Euro (general visit, bisa mengunjungi semua tempat mulai dari taman, bangunan militer, kerajaan dan hunian musim panas) Bisa di beli online di website Alhambra atau bisa beli di tempat. Saat aku mengunjungi tempat ini, aku mencoba untuk book tiket online, tapi sudah penuh padahal masih jarak satu mingguan. Alternatifnya aku dan suami berangkat pagi - pagi, aku sampai tidak cuci muka, tidak sisir rambut, Cuma gosok gigi. Mata sipit karena kurang tidur, karena baru tidur jam 3 pagi akibat kelamaan ngobrol sama teman lama yang tinggal di kota ini. Dari hotel jam 6 pagi untuk antri ambil tiket. Ternyata sampai di lokasi antrian sudah panjang.
Memasuki kerajaan Alhambra membuat aku ternganga - nganga, kagum, bagaimana orang - orang pada jaman itu dengan kesederhanaan alat membuat bangunan semegah ini, kadang mata ku sampai berkaca kaca karena takjub. Setiap ornamen bangunan di buat dengan sempurna, batu - batu marmer menjulang tinggi dipahat bertuliskan arab, sebagian bertulisakan ayat - ayat suci al-quran, bagaimana orang - orang pada jaman dulu punya selera seni tingkat tinggi begini ?. Orang - orang jaman sekarang pun akan sulit menandingi keindahan bangunan ini.
Satu tiket berlaku untuk 6 jam, mulai dari jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Awalnya aku berpikir 2 jam akan selesai, ternyata selama 6 jam aku sampai lupa makan lupa minum, kalau dihitung kilo meter, entah sudah berapa kilo meter aku berjalan dan aku masih ingin berlama - lama disana, mengagumi setiap detailnya, imajinasi ku berlari ke masa lalu, membayangkan di tempat aku berdiri ini, seribu tahun yang lalu siapa yg berdiri disini, apa yang dia lakukan, dan imajinasi - imajinasi liar lainnya. Ketika jam menunjukkan pukul 2 siang, aku masih belum mau beranjak, masih ingin berlama - lama di tempat ini, sampai kami putuskan untuk kembali lagi pada malam harinya, tapi pada akhirnya, sesampai di hotel aku menyadari kaki kiri ku bengkak, barangkali karena kelamaan berjalan dan aku harus mengurungkan niat kembali ke Alhambra. Tapi aku berjanji untuk diriku sendiri, aku akan menghadiahi diri sendiri dengan mengunjungi Alhambra di malam hari lain waktu. Ada satu hal di Alhambra yang tiba – tiba membuat ku rindu pada Eyang Kakung dan Eyang putri, pada bekas perumahan militer, ada bagian kecil di pojok rumah yang kemudian ku ketahui adalah kamar mandi & tempat buang air besar. di atas tanah tersebut ada dua bata panjang besar sejajar dengan sedikit jarak kira kira satu jengkal tapi sudah rata dengan tanah. Tahukah kamu apa itu? Tentu saja aku tahu, ini adalah WC bolong, bata itu di gunakan untuk injakan kaki, sementara jarak antara dua bata itu adalah lubang untuk tempat e’ek kita, kok tahu ? soalnya WC kakek nenek ku jaman dulu begitu.
Di samping kerajaan Alhambra. Ada juga tempat monumental yang disebut dengan Madrasah, suami ku kaget “lho kamu kok tau kalau madrasah itu tempatnya sekolah orang – orang muslim?” “yaelah cin… ya tau lah.. kan banyak Madrasah di Indonesia, Cuma umurnya gak setua Madrasah ini, kalau ini kan satu satunya di Granada, kalau di Indonesia banyak”. Letak madrsah ini terletak di pusat kota, agak jauh dari Alhambra, tempatnya orang - orang Islam menimba ilmu pada saat itu. Di dalam madrasah ini ada masjidnya juga jadi kita bisa tau dimana arah kiblat. Tempat ini pun di ambil alih oleh pasukan Kristen, akan tetapi bangunannya tidak di hancurkan, dulu tempat ini sempat dijadikan kantor pengadilan oleh - orang Kristen, kemudian tidak di gunakan lagi dan tetap di pelihara sampai sekarang, sekarang Madrasah ini menjadi bagian dari Universitas Granada, yang merupakan salah satu universitas tertua di Dunia berumur lebih dari 500 tahun. Di altar madrasah ini, lantainya di ubah menggunakan kaca, dari kaca bening ini aku bisa melihat ada bangunan rumah dibawah madrasah ini, ternyata rumah ini ada sebelum jaman Islam masuk ke Eropa, jadi barangkali ini adalah rumah orang Kristen (entah rumah siapa, aku nggak tahu sejarahnya kalau yang ini). Orang - orang jaman dulu jika ingin membuat bangunan baru caranya dengan menimbun bangunan lama, tidak seperti orang masa kini yang merobohkan bangunan lama untuk membuat bangunan baru. Itulah sebabnya para arkeolog suka menggali untuk menemukan bukti sejarah, karena pada jaman tersebut orang - orang suka menimbun, jadi kalau mau tahu sejarahnya, gali timbunannya dan disana harta sejarah masa lalu berada. Jadi jangan mengatakan para arkeolog itu kurang kerjaan kalau sedang menggali – gali tanah.
Disamping bangunan - bangunan Islam tua, terdapat juga katredal yang di bangun tidak lama setelah kekalahan umat Islam, umurnya juga sekitar 800 tahun, tetap megah, tetap terjaga.
Semua bangunan - bangunan di kota Granada rata - rata adalah bangunan tua, termasuk rumah - rumah penduduk dan kantor pemerintahan yang sudah berusia ratusan tahun tetap di gunakan, jarang ada bangunan baru di kota ini. Orang - orang lokal sangat ramah, jika kita suka Tapas (bar atau café kas Spanyol, order satu minum, dapat 1 gratis makanan porsi kecil lho ya) kota ini lah surganya Tapas. Pengalaman ku dengan suami, order 2 gelas minum dapat 1 piring kecil salad kentang dan 1 piring isi 8 gamba plancha (udang panggang). Order minum kedua dapat ikan goreng 4 ekor plus kentang goreng. Order minum ke tiga dapat roti topping keju. Begitu seterusnya dengan jenis makanan yang berbeda - beda. Hampir di semua bar dan café mereka akan memberikan makanan gratis dalam porsi kecil, dan aku sampai bertanya dalam hati “dimana mereka dapat untungnya?”
Aku sungguh gila pada kota kota kecil dan desa desa, terutama kota dan desa dengan memiliki nilai sejarah yang tinggi, tenang, sedikit berbau tradisional, itulah sebabnya ketika di tanya suami kenapa aku begitu mania pada kota kecil dan desa, jawab ku : in big city, maybe you get high level of life, because everyone loves to be on the top of the level, but they forget, we only get the quality of life in the small city or in village. When you get the quality, you don’t care about your level, And this is what I want in my life, Quality. I don’t care about the level. That’s my opinion, I don’t know if this is also work for other people but it’s work on me. Big city destroy the nature as always and I hate that.
Begitulah.. Granada, kota kecil yang sangat ku kagumi, kelak jika suatu hari aku melihat tayangan di televisi tentang Granada (di Indonesia, biasanya kota ini muncul di televisia saat Ramadhan, yang berbau – bau acara sejarah Islam), I know this place, I have been there.
Terimakasih untuk suami tercinta yang bersedia nyetir 2 jam demi menyenangkan istrinya, untuk menjadikan traveling ini menjadi lebih asik. Untuk yang ingin berkunjung ke Granada & butuh info, just PM me, dengan senang hati akan membantu.
(mohon maaf jika barangkali ulasan sejarahnya ada yang kurang pas, ini hanya seingat ku saja, semoga aku belum amnesia atau gagal paham membaca buku jaman SMA)
Warmly,
Dewi Pobo



Alhambra Dengan Latar Pegunungan Sierra Nevada

Palace of the Carles V

De patio de los arrayanes

Viev of the city

Glazed tiles, rich of art

Full Arabic & high sense of art

Small portion free, big portion please buy

Military house


Kamis, 27 Oktober 2016

You Can't Please Everyone

Soal Oleh Oleh
Tulisan saya ini terinspirasi dari saudara perempuan saya bukan kandung bukan se ibu dan bukan sebapak, bukan senenek atau sekakek. Saya merasa cocok saja menyebutnya saudara perempuan, yang sedang kecewa perkara oleh oleh yang dibawanya
Sudah menjadi tradisi menggelikan (bagi saya) bahwa kalau kita bepergian maka ketika kembali ada semacam kewajiban membawa oleh oleh. Walau itu sudah menjadi tradisi, saya sudah lama meninggalkan tradisi tersebut.
Bukan tidak beralasan, bagi mereka yang tidak pernah berpergian, berharap oleh oleh, atau minta di belikan oleh oleh, atau nitip oleh oleh barangkali terdengar lumrah dan wajar. Akan tetapi ada beberapa hal yang mereka tidak tahu, bahwa untuk mendapatkan oleh oleh, di samping menyita waktu perjalanan karena harus cari oleh oleh, juga menyita tempat di barang bawaan, menyita energi, belum lagi harus mengeluarkan biaya, walaupun jumlahnya tidak seberapa, tetap saja itu uang. Terkadang yang minta oleh oleh pun tidak tahu bagaimana bersikap, dengan berkomentar “jauh jauh oleh olehnya Cuma ini” atau “kok Cuma sedikit” atau “kok modelnya begini” atau “yah, kalau kayak gini mah lebih baik nggak usah” atau “ini mah di tanah abang juga banyak” atau “ini aku udah punya, yang lain donk” atau “ya elah miskin amat ngasih oleh oleh murahan” dan komentar komentar lain yang membuat pemberi oleh oleh gemes. Yang lebih sedih lagi oleh olehnya Cuma di geletakin gitu aja, kemudian lain hari kita menemukan oleh oleh yang kita berikan tidak di rawat dan Cuma tergeletak di lantai pojok rumah.
Bagi saya, mereka yang meminta oleh oleh adalah golongan orang orang norak tak berkesudahan. Terkadang saya geli mendapati kenyataan beberapa orang yang hendak bepergian, mereka sampai menyiapkan budget untuk membeli oleh oleh, padahal kondisi keuangan mereka pun dibawah pas pas-an. Miris lagi saya ketika ada keluarga berangkat umroh dengan paket yang bisa dicicil (umrahnya hutang), tapi menyediakan sampai beberapa juta untuk oleh oleh, kan mending uang untuk oleh olehnya digunakan untuk membayar hutangnya.
Bagi yang masih suka minta atau  berharap oleh oleh, tolong berhentilah, hormati mereka yang akan bepergian, jangan di tambahi beban ini itu, selain beban berat di barang, beban sosialnya juga tinggi, please berempati. Kalau toh mereka dengan suka rela memberi oleh oleh, hargailah.  Karena oleh oleh bukan semata mata hanya ukuran, harga, dan jenis barang, barangkali itu adalah bentuk kasih dari pemberi oleh oleh. Kalau nitip, ya gantilah uangnya, jangan beralasan lupa nggak bawa dompet atau nunggu gajian, anda juga harus tahu yang anda titipi oleh oleh itu sama susahnya seperti anda.  Kalau saya sih mengasihi sesama juga, tapi tidak dalam bentuk oleh oleh. Buat apa, wong yang dikasihi tidak sedikit yang malah pada brekele. Memang banyak yang kecewa dan tidak bahagia, nggak apa apa, wong hidup memang bukan untuk membahagiakan semua orang, dan yang paling penting, lebih menghargai diri sendiri agar tidak dikecewakan para brekele.